Senin, 14 April 2014

Story dev: Characterization!

Hi, selamat datang di seri kedua dari Story dev. Kalau sebelumnya kita membahas tentang inti cerita, kali ini kita akan menjelaskan tentang karakter yang bermain dalam cerita itu. Jadi mari kita mulai.

Dalam membuat tokoh kita harus menambahkan karakter ke dalam tokoh itu, ini supaya tokoh yang kita buat benar-benar terasa hidup dan tidak hanya menjadi boneka yang merupakan sebuah alat bagi pencerita untuk mengutarakan ceritanya. Jadi bagaimana supaya kita bisa menambahkan karakter ke dalam tokoh buatan kita? Berikanlah goals dan motivation.

Penjelasan singkatnya begini:

  • Goals: adalah sesuatu yang diinginkan oleh tokoh kita
  • Motivation: adalah alasan kenapa tokoh kita menginginkan goals itu tadi.
(oke, menyebut "tokoh" terasa agak aneh buatku, selanjutnya aku akan menyebut pemeran dalam cerita yang kita buat sebagai "karakter" lebih terasa natural buatku)

Seperti halnya dengan orang-orang nyata yang ada di hidup ini, karakter kita pastinya punya sesuatu yang diimpikan. Sesuatu ini bisa berupa benda fisik seperti misalnya Pedang legenda, harta karun tersembunyi, atau gaun yang indah. Atau bisa saja sesuatu yang diinginkan berupa hal-hal yang tidak berwujud, misalnya saja gelar, ketenaran, menjadi populer di antara banyak orang. Atau bisa saja berupa gabungan dari kedua hal tersebut, misalnya saja ingin mendapat gelar sebagai seorang ahli pedang dengan berhasil mendapatkan pedang sihir yang melegenda.

Motivation adalah alasan kenapa seseorang menginginkan sesuatu atau hal yang mendorong seseorang untuk menginginkan sesuatu. Alasan atau dorongan ini berasal dari dalam diri karakter itu sendiri, yang bisa terbentuk dari lingkungan di mana karakter itu hidup / dibesarkan. Contohnya, seorang anak yang hidup miskin sedari kecil, hidupnya serba kekurangan, makan malam yang seadanya, tiap tidur selalu kedinginan, selalu memakai baju yang lusuh. 

Apa yang kira-kira diinginkannya? Hidup mewah, atau paling tidak hidup yang tidak perlu mengkhawatirkan apakah tersedia makan malam atau tidak. Bagaimana cara mendapatkannya? Bekerja keras sejak kecil, bisa jadi pelayan bar, pemusik, penggembala, apa saja. Bagaimana kalau dia melihat poster penjahat, dengan hadiah uang bagi yang menangkapnya? Uang yang cukup untuk hidup tanpa perlu kerja selama satu bulan? Bukan tidak mungkin bukan kalau dia berusaha menangkapnya? Bukan hal aneh juga kalau dia lalu menjadi seorang pemburu hadiah di kota asalnya. Dan dari situ background cerita sudah kita dapat.

Apakah harus mengikuti contoh di atas? Tidak selalu, dari contoh tadi si anak sudah mendapat apa yang dia inginkan, dia hanya  terus melakukan pekerjaannya sebagai pemburu hadiah. Bagaimana kalau karakter kita belum mendapat apa yang dia inginkan? Bukankah akan menjadi background cerita yang tidak kalah bagusnya?

Mungkin sementara ini sampai di sini dulu post kali ini. Sampai bertemu di blog post berikutnya. Ciao!